Skin Care Facts
Aging / Wrinkles
Perawatan Kulit untuk Perimenopause dan Menopause?
Orang mengatakan bahwa menopause dimulai pada hari Anda mulai mendapatkan siklus menstruasi Anda yang pertama. Saya tidak tahu apakah komentar tersebut bernada positif atau negatif, tetapi bagaimanapun Anda memandangnya, seorang wanita akan mengalami periode tersebut setelah sekitar 40 tahun semenjak periode yang pertama, lalu mereka akan berhenti, baik secara perlahan-lahan ataupun mendadak. Walaupun masih dibutuhkan banyak penelitian lebih lanjut sehubungan dengan permasalahan seputar perimenopause (masa sebelum terjadinya menopause), menopause (akhir dari siklus mens), dan postmenopause, tetapi ada banyak hal yang sudah diketahui.
Perimenopause dan menopause terjadi karena adanya perubahan produksi hormon dalam tubuh. Terkadang, efek negatif menopause terutama disebabkan oleh ketidakseimbangan kadar female hormones/hormon wanita (menurunnya kadar hormon estrogen dan progesteron) dan male hormones/hormon pria (seperti androgen, misalnya testosteron) yang terdapat dalam tubuh wanita. Karena penurunan hormon pria lebih perlahan, maka kadar hormon tersebut akan menjadi lebih tinggi saat hormon estrogen dan progesteron menurun, dan akibatnya hormon pria tersebut akan menimbulkan dampak yang lebih besar daripada hormon wanita. Ketidakseimbangan ini dapat mempengaruhi beberapa hal, misalnya pertumbuhan rambut. Saat tingkat estrogen menurun, banyak wanita yang mengalami peningkatan produksi androgen sehingga mengakibatkan beragam tingkat pertumbuhan rambut berwarna gelap pada wajah—khususnya disekitar area dagu dan tempat tumbuhnya kumis yaitu diatas bibir. Ironisnya, saat rambut-rambut diwajah Anda menjadi semakin jelas, rambut dikepala anda mulai berkurang pertumbuhannya sehingga Anda mungkin mengalami kebotakan; setiap helai rambutnya juga menjadi lebih kecil ukuran diameternya.
Berkurangnya kadar estrogen dan progesteron juga memiliki dampak negatif terhadap kulit. Disamping dari masalah yang disebabkan oleh kerusakan akibat sinar matahari, kulit para wanita yang berada dalam masa perimenopausal dan menopausal menjadi lebih tipis, mengendur dan kehilangan elastisitasnya, produksi kolagen menurun, fungsi kelenjar minyak menurun, dan kulit juga menjadi kering. Berkurangnya hormon wanita juga mempengaruhi bagian tubuh lainnya; dinding jaringan vagina menipis dan terasa seperti terbakar dan gatal, dan jaringan kelenjar susu pada payudara digantikan dengan lebih banyak jaringan lemak sehingga mengendur dan turun. (Sumber: American Journal of Clinical Dermatology, April 2003, halaman 371-378).
Perimenopause dan menopause juga dapat menyebabkan beberapa hal yang membuat para wanita menjadi frustasi, diantaranya adalah hot flashes (rasa panas di wajah), flushes (gejolak panas di seluruh tubuh), berkeringat dingin dan/atau cold flashes (kedinginan), tangan berkeringat, detak jantung meningkat tajam secara tiba-tiba, mudah marah, perubahan mood, susah tidur, menstruasi menjadi lebih banyak, flooding (pendarahan yang berlebihan dari dalam uterus), libido menurun, kulit menjadi gatal, dan kuku mudah patah.
Walaupun hal-hal diatas terdengar begitu rumit, tetapi sebenarnya ada beberapa pilihan yang tersedia untuk mengatasi efek samping perimenopause dan menopause. Pilihan tersebut mencakup obat herba alternatif dan pengobatan barat yang konvensional. Untuk itu, saya akan membicarakan beberapa pilihan yang tersedia saat ini, tetapi saya sangat menyarankan para pembaca untuk mencari informasi sebanyak mungkin atau menemui dokter yang ahli dalam bidang ini. Harap hindari situs, perusahaan, atau dokter-dokter yang tidak menawarkan pendekatan yang seimbang sehubungan dengan masalah ini. Pilihan medis tidaklah buruk atau berbahaya seperti yang sering dinyatakan oleh perusahaan-perusahaan pembuat suplemen herba dan para ahli homeopathic; dan pilihan alternatif herba bukannya tidak berguna (atau tak ada bukti) seperti yang dinyatakan oleh banyak dokter. Kedua pendekatan tersebut memiliki peranan dalam menghilangkan beberapa gejala perimenopause dan menopause yang sangat mengganggu tersebut.
Hormone Replacement Therapy: Tidak diragukan lagi, Hormone Replacement Therapy (HRT) dan Estrogen Replacement Therapy (ERT) memang sangat kontroversial. Walau demikian, hasil penelitian membuktikan bahwa HRT mengembalikan dan mencegah hilangnya kemampuan jaringan pendukung kulit dan elastisitas kulit, juga ketebalan dan tekstur kehalusannya (Sumber: Journal of the American Geriatrics Society, Juni 2004, halaman 945-949; Skin Research and Technology, Mei 2001, halaman 95). American Journal of Clinical Dermatology (2001, volume 2, issue 3, halaman 143–150) meringkas laporan ini dengan menyatakan bahwa, "Estrogen tampaknya membantu mencegah penuaan kulit dengan beberapa cara. Hormon reproduktif ini mencegah penurunan kolagen kulit pada wanita yang berada dalam periode postmenopause; terapi estrogen sistemik dan topikal dapat meningkatkan kadar kolagen kulit sehingga menjaga ketebalan kulit. Selain itu, estrogen menjaga... fungsi pertahanan lapisan stratum corneum pada kulit…. Efek estrogen terhadap elastic fibers (serat elastis) dan kolagen juga dapat membantu masalah keriput pada kulit... . Selain itu, ada praduga bahwa estrogen dapat meningkatkan tingkat penyembuhan luka pada kulit... ."
Tetapi, Anda mungkin perlu mempertimbangkan pro dan kontra dari jenis terapi ini dengan dokter Anda karena adanya potensi resiko yang serius sehubungan dengan efek ERT dan HRT terhadap penyakit jantung, osteoporosis, dan kanker payudara (Sumber: Best Practice & Research Clinical Endocrinology & Metabolism, September 2004, halaman 317-332).
Alternatif Herba (phytoestrogens, juga disebut sebagai estrogen tumbuhan): Sebagai orang yang meminum 8 ons susu kedelai setiap harinya dan memakan banyak tahu selama sembilan tahun belakangan ini, saya adalah penggemar phytoestrogens. Tetapi hal tersebut hanyalah sebuah praduga dan saya tidak ingin Anda hanya bersandar pada informasi yang tak jelas untuk masalah kesehatan. Kenyataannya, penelitian mengenai manfaat tanaman sebagai sumber estrogen seperti produk-produk kacang kedelai dan ekstrak red clover masih tidak jelas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanaman tersebut tidak membantu sama sekali (Sumber: Obstetrics and Gynecology, Oktober 2004, halaman 824-836) sementara beberapa penelitian lainnya menyatakan sebaliknya (Sumber: Biochemical Pharmacology, September 2004, halaman 1171-1185). Penelitian yang terdapat dalam situs Dr. Andrew Weil (http://www.drweil.com) menawarkan pendekatan yang sangat seimbang antara pilihan herba dan medis barat, termasuk informasi mengenai HRT dan ERT dan herba alternatif seperti kacang kedelai, black cohosh, dong quai/ginseng putri, damiana, minyak evening primrose (EPO), dan minyak borage/starflower.
Mungkin akan lebih bijak jika Anda mulai menghitung standar estrogen Anda saat Anda berusia 40 tahun dan hitung kembali saat Anda berusia 45 tahun untuk menentukan apa yang disebut dengan normal bagi tubuh Anda. Dengan demikian Anda dapat mengevaluasi perubahan hormonal Anda dan mengetahui efek dari kombinasi beragam suplemen pada tubuh Anda.
Saat Anda mencari lebih banyak informasi di internet seputar masalah menopause, Anda pasti akan menemui situs-situs yang mempromosikan (hampir seperti memuja-muja) manfaat dari cream “progesteron alami” yang dioleskan. Tetapi, penting untuk Anda ketahui bahwa krim progesteron alami ini tidak diatur oleh FDA sehingga mereka sebenarnya hanyalah kosmetik biasa. Ini berarti perusahaan kosmetik manapun dapat memasukkan progesteron ke dalam produk apapun yang mereka inginkan. Masalahnya, hanya ada sedikit sekali penelitian yang menunjukkan adanya manfaat dari penggunaan krim ini, selain dari klaim yang dibesar-besarkan oleh perusahaan yang menjual produk-produk ini. Hal ini juga berlaku bagi perawatan “alami” atau perawatan hormonal yang bio-identik seperti pregnenolone, testosterone, progesterone, estrone, estradiol, dan estriol. Penelitian yang saya temukan menyatakan adanya manfaat dari krim tersebut tetapi tidak ada data keamanan atau efek penggunaan jangka panjangnya (Sumber: Menopause, Mei-Juni 2004, halaman 356-367) dan penelitian lainnya menunjukkan adanya potensi untuk efek samping yang negatif seperti depresi (Sumber: European Journal of Endocrinology, Mei 2003, halaman 571-577).
Pilihan Perawatan Kulit: Saya ingin sekali mengatakan bahwa di luar sana ada produk perawatan kulit yang dapat membantu perubahan kulit yang terjadi selama periode perimenopause dan menopause, tetapi kenyataannya tidak ada. Tidak ada informasi yang menyatakan bahwa mengoleskan ekstrak kacang kedelai, black cohosh, wild yam, atau minyak evening primrose (EPO) pada kulit dapat menghilangkan perubahan yang terjadi pada lapisan epidermis dan dermis, dan tentu saja tidak sebanding dengan pemakaian secara oral. Tidak satupun dari antara unsur tersebut yang dapat menimbulkan masalah jika terdapat dalam produk-produk perawatan kulit, tetapi manfaat yang diberikan juga tidak banyak berbeda dari bahan-bahan anti-pembengkakan dan antioksidan lainnya dalam kosmetik yang sebenarnya sangat mengesankan tetapi tidak dapat membalikkan efek menopause.
Pada kenyataannya, dasar perawatan kulit untuk para wanita yang berada dalam periode perimenopause dan menopause tidaklah berbeda, diperlukan perlindungan secara terus menerus dari sinar matahari dan harus menggunakan produk perawatan yang sesuai dengan jenis kulit yang Anda miliki (tidak semua wanita yang berada dalam periode menopausal memiliki kulit yang kering), Anda juga dapat mempertimbangkan untuk menggunakan Retin-A atau Renova, dan gunakan produk perawatan kulit yang lembut dan banyak mengandung unsur antioksidan dan anti-pembengkakan (sekarang ini, banyak produk yang sudah menggunakan bahan tersebut). Penggunaan produk-produk pemutih kulit yang berbahan dasar hydroquinone atau arbutin bisa menjadi pilihan lainnya jika terjadi skin discolorations (seperti melasma atau chloasma). Tetapi, kenyataannya tidak ada obat oles apapun (selain dari krim estrogen yang dijual bebas atau yang berdasarkan resep) yang dapat mengubah kondisi kulit Anda yang sesungguhnya yang disebabkan oleh berkurangnya hormon.
Catatan: Bagaimana dengan penggunaan AHA dan BHA untuk para wanita yang sedang dalam periode menopause? Hal ini bergantung pada keadaan kulit Anda. Bagi beberapa wanita (biasanya mereka yang berusia 70 tahun keatas—jauh setelah menopause), kulit bisa menjadi sangat tipis sehingga kulit bisa sobek saat tergaruk atau tergosok. Penipisan ini merupakan akibat dari berbagai faktor tetapi hal ini terutama disebabkan oleh kombinasi dari hilangnya estrogen, penuaan gen, dan kerusakan akibat sinar matahari. Semua hal tersebut menyebabkan sel kulit menghasilkan “kulit lebih sedikit” sehingga kulit menjadi kurang sehat. Dalam hal penuaan gen, sel kulit tampaknya memiliki mekanisme terprogram yang dapat memperlambat pergantian sel kulit sehingga menyebabkan penumpukan sel kulit mati pada permukaan kulit. Tentu sangat membantu jika kita memiliki cara untuk memberitahu sel kulit agar tidak memperlambat produksi, tetap sehat (bemproduksi secara normal), dan tidak membuat penumpukkan sel kulit mati pada permukaan kulit. Renova (hanya dapat dibeli berdasarkan resep) adalah satu-satunya pilihan yang kita miliki untuk membantu kulit menghasilkan sel kulit yang lebih sehat. Sementara itu, AHA dan BHA memang dapat membantu kulit bagian luar dengan cara mengelupaskan sel-sel kulit mati di permukaan. Bagi beberapa wanita yang berusia 70an, 80an, dan 90an yang memiliki kulit yang sangat rapuh, mengelupaskan sel kulit mati bisa menjadi masalah (mereka malah membutuhkan sel kulit mati tersebut untuk berada di permukaan selama mungkin). Tetapi, bagi para wanita yang tidak memiliki kulit yang rapuh semacam itu, manfaat dari pengelupasan sel kulit mati seperti itu sangat membantu meningkatkan penampilan kulit karena memungkinkan sel kulit yang lebih sehat untuk muncul ke permukaan dan memungkinkan pelembab untuk melakukan penetrasi yang lebih baik ke dalam kulit. Selain itu, AHA dan BHA juga dapat merangsang produksi kolagen yang bermanfaat bagi kulit.

